deburan angin yang merontokkan embun2 di pagi
adalah kerinduanku yang terbalas senyumanmu
Sugeng Rawuh
Gubuk Cerita
Tampilkan postingan dengan label grenengan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label grenengan. Tampilkan semua postingan
Rabu, 07 Agustus 2013
Rabu, 14 November 2012
Tiba-Tiba
Pagi itu isak sesak menusuk sedalam-dalamnya jiwa
Serpihan-serpihan kenangan memburu membasahi
ayat-ayat yang kudaras
Tiba-tiba aku merasa sedikit-sesal-untuk waktu yang
sekian lama berlalu?
Sudut kamar, 11112012
Kamis, 08 November 2012
tanpa judul
Derak-derak kaki
berlarian, meninggalkan jejak-jejak yang kemudian terhapus oleh ombak. Aku
berlari kencang, menghindari kejaranmu. Dan kau memburuku mengikutiku pada arah
lariku. Jerit-jerit kecil dan tawa ramai dari mulutku dan mulutmu, bersamaan
suara ombak.
“ampun, sudah, cukup,
berhenti. Aku tak sanggup lagi” nafasku tak beraturan. Aku terduduk kelelahan,
senyum tak pernah lepas dari bibirku. Pun dirimu, sambil mengusap peluh di
dahimu, kau mengekor duduk di sampingku. “Cuma segitu? Payah.” Nyinyirmu mengejekku.
Aku masih mengatur nafas sampai normal.
Ombak masih dengan
garangnya membentur bibir pantai. Kupejamkan mata, dan ikut merasakan belaian ombak, dengan angin yang tak
pernah lepas beriringan. Kita terdiam untuk
beberapa saat menikmati keajaiban alam yang diberikan tuhan.
Kuamati
wajahmu, keningmu, matamu, hidungmu, bibirmu.
“hai,
kenapa kita tak mencoba mendekati air laut?” selorohku
“jangan,
berbahaya” sergahmu
“tidak
apa-apa asal kita mati berdua…” aku tertawa, kau tertawa. Dan semakin mengecil
suara kita. Lalu kembali terdiam.
Kurasakan
tanganku yang hangat karena genggamanmu, aku terdiam, kau terdiam. Senja
semakin merapuh, para nelayan bertolak arah dari lautan, sepasang burung
berkibaran di atas lautan, terbang bebas dengan kicau-kicaunya, entah apa yang
mereka bicarakan, terlintas dalam pikirku jika mereka adalah kita, tentu akan
sangat menyenangkan bebas terbang dan hanya berdua. Atau seperti sekarang yang
hanya terdiam dan merasakan kehangatan tangan masing-masing.
“ayo
kita pulang” sambil kau lepaskan genggamanmu. Aku mengikutimu dari belakang.
Pulang
selalu menjadi kata menakutkan. Sampai pada jalan ini, kita akan berada di
jalan masing-masing. Aku akan berada di jalanku, dan kau berada di jalanmu. aku
akan menunggu dengan gundah, menanti pertemuan kita selanjutnya yang entah kapan
akan terjadi, atau mungkin tidak akan pernah terjadi.
***
Tak ada
cerita tentang kita. Kita adalah air yang mengalir, mengikuti arusnya. Tak ada
ikrar, taka da janji, kita adalah burung yang bebas terbang, dan akan berteduh
ketika membutuhkan kehangatan dari derasnya hujan. Begitulah kita. Kita akan
bertemu jika kita ingin bertemu, dan begitu sebaliknya. Kita tak butuh sebab
untuk bersama, dan kita tak butuh alasan untuk berpisah. Hanya saja pertanyaan
sering timbul diam-diam dalam benakku, jika aku bukan siapa-siapa kenapa ada
nyeri di dada dan menimbulkan sesak tak kunjung reda.
Tak ada
kata pertemuan begitu juga tak akan ada kata perpisahan. Kita satu hanya saat
bersama, dan selanjutnya adalah pribadi yang berbeda. Yang ingin kutanyakan
apakah kau juga timbul pertanyaan seperti dalam benakku?
Ah tentu
saja ini adalah pikiranku saja.
Sekian
hari aku akan tersibukkan oleh pekerjaan kantor, dan itu adalah obat rasa
rinduku yang menggunung padamu. Kedip-kedip kursor komputer membuatku sementara
lupa akan dirimu, bayangmu yang melayang-layang dalam pikirku. Seringkali aku
merasa bosan melihat layar hpku yang kuharapkan akan ada namamu yang muncul di
sana tapi tak pernah ada. Aku tak punya keberanian untuk menanyakan kabarmu,
biarpun seberapa gundahku tanpa secuil kabar darimu. Yang bisa kulakukan
hanyalah menunggu kedatanganmu. Aku tahu sudah ada seseorang yang lebih bisa
merawatmu dengan baik di sana. Tetapi terkadang aku ingin akulah yang ada di
sana saat ini,bukan dia yang entah siapa aku pun tak tahu rupanya.
***
“sudah
lamakah?” kurasakan hawa tubuhmu yang mendekat dan duduk tepat di sampingku. Masih
di tempat yang sama, pantai dengan ombak riuhnya.
“belum” kita
terdiam lama.
Wajahmu,
seperti ada mendung di sana. Inginku menggenggam tanganmu yang hangat, yang
membuatku sesak berhari-hari. Tapi aku tak punya keberanian lebih. aku ikut terdiam.
Saat itu
ombak pasang, riuhnya membentur karang-karang mengisi sunyi yang tercipta di
antara kita. Aku tak pernah merasa setenang ini, berada di sampingmu walaupun
hanya dengan senyap.
Setelah sekian
lama terdiam, kau memelukku erat, dan kurasakan degup jantungku sendiri
memukul-mukul dada. Sepertinya kau tak peduli, kau tetap memelukku erat seakan
tak ingin kau lepaskan. Aku menahan nafas, menunggu apakah yang hendak kau
utarakan. Andai waktu bisa berhenti aku ingin waktu berhenti saat ini, dan
tetap begini.
“seminggu
yang lalu, kabar bahagia itu datang. Aku akan menjadi seorang ayah”
Bisikmu parau,
aku tak bisa mencerna dengan baik kata-kata yang keluar dari bibirmu. Aku tak
bisa menerka benar apakah kebahagiaan terpancar di wajahmu. Aku hanya merasakan
punggungku basah. Kau masih memelukku erat.
Aku masih
terdiam, lama.
#aku
masih merasakan terakhir kali aku merasa begitu bahagia ketika kurasakan
hangatnya rengkuhanmu.
Senin, 15 Oktober 2012
Yang...
yang…
Orang bilang kitalah arjuna
sinta
yang…
Kau pergi demi bakti suci
yang…
Kupasrahkan rindu dan sayang pada
semilir angin terbang
yang…
Andai kau singkap tabir masa
depan
Bumi telah kugenggam dan aku
masih berdiri garang
Selasa, 25 September 2012
Kenangan
Langit yang hitam
Cahaya bulan di ketengahan
Sudut-sudut malam yang gelap
Diselimuti dingin yang gigil
Sementara yang kulihat mata dan senyumnya
Yang kudengar lirih suaranya
Yang kurasa hangat sentuhannya
Hanya itu yang tertinggal
Selebihnya adalah genggaman pasir di tanganku yang sebentar
berguguran…
Ngrukem, 26 sep 2012
Senin, 24 September 2012
Ramadhan Terakhir
Banyak mulut menyeracau dan mulutku termasuk
di dalamnya, cuaca dan hawa yang begitu dingin sangat menyiksa malam-malam yang
gelap. Memeluk kulit dan membekukannya, serta membuat ngilu tulang.
Kugosok-gosokkan keduatanganku agar mengurangi hawa dingin, kuangkat kaki
ke atas kursi dan kubalut dengan rok yang kupakai.Tanganku masih kebingungan di
depan layar komputer.
“bulan ramadhan kali ini tidak terasa berat,
karena tak berasa haus sedikit pun sebab jauh dari cuaca panas. Hanya saja dingin tiap malam,
tak tahan aku dibuatnya” fida membuka suara di tengah mulutnya yang
sedang mengunyah makanan sahur.Aku diam saja,
sambil lekat-lekat dan memepererat balutan selimut di kakiku,
sambil sesekali tanganku menggapai nasi hangat di depanku dan memasukkannya kemulutku,
nikmat rasanya sangat kontras dengan pipiku yang dingin membeku.Ini ramadhan terakhirku
di pesantren,tahun terakhirku.sudah kutekadkan aku akan menjalaninya hingga akhir.
“kau itu sudah diingatkan oleh keamanan ramadhan berkali-kali,
jangan sering-sering membolos ngaji pagi kau.” Fida mengganti topik pembicaraan
“iya aku tahu” sambil kusunggingkan senyum termanis yang
kupunya berharap dia tak melanjutkan topik pembicaraan yang menyudutkanku seperti ini.
Ini masalah yang sedang kuhadapi,
disamping tekadku ingin menjalani bulan ramadhan yang berkah di
pesantren untuk terakhir kalinya, tapi rasa kantuk yang didukung hawa dingin membuatku selalu tergoda untuk menarik selimut tiap selesai shalat shubuh,
membuatku absen berkali-kali pengajian pagi. Sudah berkali-kali pula
aku diingatkan panitia ramadhan, dan entah sudah berapa kepingan logam yang
kusodaqohkan untuk menebus perbuatan absenku.Sudah kucoba dengan cara mendaras al
Qur’an sambil menyiapkan setoran,
tapi ujungnya aku tetap terlelap melingkar dengan masih memakai mukena lengkap. Beruntung tak jarang
pula fida mengijinkanku absen ngaji dengan alasan membantu pekerjaan kantin nderek ndalem,
dan memang aku lebih memilih itu dari pada terkantuk-kantuk mengikuti pengajian yang
membosankan.
Mulutku bersenandung mengikuti lantunan lagu-lagu
yang kupilih dan kuputar di playlist komputer.Tanganku masih menari indah di
atas tutskey.Kadang aku terhanyut oleh lagu yang kuputar, kadang aku terhanyut oleh petikan-petikan suara keybord
yang kupencet.
“mbak yayah, punyaku mana ya?” mbak yayah yang
sedang asik dengan mainan berbentuk kotak di
tangannya hanya menjawab dengan isyarat kepala, dia tentu sudah paham apa yang
kumaksudkan. Kuambil barang elektronik kecil bermanfaat tapi juga banyak madhorot itu dari dalam lemari mbak yayah. Kulihat terdapat beberapa pesan baru
yang belum kubaca. Aku sudah berjanji siang ini akan menghubungi adikku. setelah beberapa menit aku berbicara dengan adikku,
Kembali kutitipkan barang itu kepada mbak yayah yang sudah tidak lagi sibuk dengan mainannya.
“kita harus lebih berhati-hati,
siapa tahu setelah rubiyah tertangkap kemarin sekarang giliran kita yang kena swiping kemanan pondok.”
kujawab nasihat mbak yayah dengan senyuman. Sudah menjadi rahasia umum,
bahwa tak sedikit santri yang mbeling-termasuk aku di dalamnya-
nekat membawa barang itu walaupun sudah jelas dalam peraturan pondok tak seorangpun santri diperbolehkan membawa barang itu dengan alasan apapun.Dan
telah jelas tertera pula bagi siapa saja yang
melanggar sudah tentu kena sanksi karantina.Bagi kalangan umum, pondok kami tentu dianggap katrok dan buta tekhnologi.Tapi bagi kalangan tertentu ada sisi positif adanya peraturan tersebut,
tentu saja agar tidak mengganggu proses kegiatan belajar mengajar. Bahkan,
bukan hanya pondok pesantren yang memberlakukan peraturan tersebut,
banyak dari lembaga formal lain seperti sekolah yang juga memberlakukan peraturan itu dengan alasan
yang sama.
***
“serius kau mau lebaran di sini? “ Tanya
fida dari dalam kantin sambil memasak menu-menu untuk berbuka nanti sore.
“tentu saja, ini kan tahun terakhirku. “
Tak tak tak
Suara pisauku memukul-mukul telenan yang
kugunakan untuk mengiris ketela ikut mengisi perbincangan kita.
“memangnya kau sudah matur sama ibumu?”
“hmm.. sudah, tapi ibu mengizinkan dengan sedikit keberatan”
Lalu hanya suara pisauku yang
terdengar karena fida tak melanjutkan tema obrolan kita.
Setelah beberapa kalimat tertulis
di layar komputerku, aku berhenti sejenak dan menimbang-nimbang hendak kisah apa yang
akan kutuliskan selanjutnya. Kupejamkan mata dan kunikmati lagu-lagu yang
berputar mengikuti alurnya dan meresap kesela-sela nafasku.Terbayang beberapa hari kedepan,
lebaran segera datang. Lebaran yang kujalani tanpa keluarga untuk pertama kalinya.
“mbak fay…ayo kita berangkat” ajakku pada teman dekatku seraya menggandeng tangan mbak
fay menuju musholla putra untuk mengikuti kegiatan mudarrosah bersama, salah satu di
antara sekian kegiatan yang disiapkan oleh panitia ramadhan tahun ini.
***
“mbak, dipanggil umi” seseorang membisikkan di telingaku, tampak isyarat tanya di wajahku. sedang mudarrosah begini,
di baris depan sendiri pula tiba-tiba dipanggil umi. Ada apa ya?
Kiranya penting sekali.
“ada apa?” tanyaku sambil berbisik.
“hpmu kena sita” jawab umi tak kalah lirih pula.
Perputakaan AnNur, 02082012
Langganan:
Postingan (Atom)

